apat Dewan Gubernur BI bulan Maret 2011 telah menahan BI rate pada 6,75%. Angka inflasi year on year (yoy) yang turun menjadi 6,84% dan kekhawatiran atas semakin derasnya capital inflow menjadi faktor BI untuk tidak mengubah besaran BI rate. Bahkan, nilai BI rate 6,75% memungkinkan untuk terus bertahan hingga akhir tahun, atau setidaknya menjadi nilai rata-rata sepanjang tahun 2011 sesuai data proyeksi makroekonomi sebelumnya di bulan Januari 2011.
- Inflasi yoy 6,84% (mom 0,13%) yang menurun dibandingkan nilai yoy di bulan Januari 7,02% lebih disebabkan oleh sudah relatif tingginya inflasi bulanan Januari yang sebesar 0,89%. Nilai inflasi Februari tersebut juga dipengaruhi oleh Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2010 yang meningkat cukup besar dibandingkan IHK Januari 2010, yaitu dari 118,01 menjadi 118,36. Namun melihat tren penguatan harga-harga komoditas pangan dan energi yang belum berakhir dan cuaca yang masih sulit diprediksi di beberapa daerah membuat potensi inflasi tinggi masih ada.
- Kurs rupiah terhadap USD akan terus bergerak menuju Rp 8.750/USD selama bulan Maret-April 2011. Penguatan rupiah yang cepat didukung oleh toleransi BI yang lebih longgar dalam mengintervensi nilai rupiah. BI akan membiarkan rupiah menguat hingga ke level Rp 8.700-8.750 karena dianggap masih cukup menunjang aktivitas penjualan para eksportir, dan di sisi lain turut menjaga inflasi akibat penurunan harga barang-barang impor.
- Kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) tambahan sebagai penalti atas ketentuan LDR 78%-100% telah memaksa bank-bank yang tidak mampu memenuhi ketentuan LDR tersebut untuk menyediakan likuiditas lebih besar. Sebagai contoh, Bank Mandiri menyetor GWM tambahan Rp 3,98 triliun (LDR 66%) dan BCA menyetor Rp 6,3 triliun (LDR 55%). Kebutuhan likuiditas yang meningkat ini terlihat dari nilai penempatan bank-bank pada beberapa instrumen yang menurun dalam jangka waktu sebulan, seperti SBI dan Term Deposit BI yang menurun Rp 12 triliun dan Rp 13 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) bank juga menurun dari Rp 2.284 triliun menjadi Rp 2.273 triliun yang menjadi isyarat bahwa bank-bank mulai melepas dana-dana mahal untuk mengurangi biaya dana sekaligus juga untuk mengerek loan to deposit ratio (LDR).
- Beberapa bank yang memiliki portfolio besar di sektor kredit/pembiayaan mikro mencatat kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan) dengan rasio NPL posisi Desember 2010 yang meningkat 1%-4% dibandingkan posisi NPL Desember 2009. Kecenderungan ini juga ditunjukkan oleh dua bank spesialis kredit mikro yaitu NPL Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI dengan posisi tertinggi mencapai 7% dan NPL kredit mikro BTPN yang naik 3,9% menjadi 5,4% pada akhir 2010. Hal ini wajar sejalan dengan eksposur kredit mikro yang tumbuh 25% selama 2010. Namun, BI menyebutkan NPL kredit mikro secara nasional menurun dari 3,23% (2009) menjadi 2,72% (2010).
- Harga minyak akan bergerak secara rata-rata di angka US$ 105, dan akan terus naik hingga level resisten di angka US$ 130 seandainya krisis Libya berkepanjangan, serta menimbulkan krisis baru di Arab Saudi. Harga minyak akan turun drastis menuju keseimbangan di angka US$ 70-75 apabila krisis Libya berakhir. Lembaga-lembaga internasional harus mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat bencana Tsunami di Jepang menjadi hanya 3%-3,5%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar